Tuesday, 22 September 2015

, , , ,

Sepenggal Hikmah dari Buya Hamka

Buya Hamka
Tahukah Anda, siapakah Prof. DR. Hamka atau lebih sering disebut dengan Buya Hamka itu? Prof. DR. H. Abdul Malik Karim Amrullah, pemilik nama pena Hamka (lahir di Nagari Sungai Batang, Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, 17 Februari 1908 – meninggal di Jakarta, 24 Juli 1981 pada umur 73 tahun) adalah seorang ulama dan sastrawan Indonesia. Ia melewatkan waktunya sebagai wartawan, penulis, dan pengajar. 

Ia terjun dalam politik melalui Masyumisampai partai tersebut dibubarkan, menjabat Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) pertama, dan aktif dalam Muhammadiyahsampai akhir hayatnya. Universitas al-Azhar dan Universitas Nasional Malaysia menganugerahkannya gelar doktor kehormatan, sementara Universitas Moestopo, Jakarta mengukuhkan Hamka sebagai guru besar. Namanya disematkan untuk Universitas Hamka milik Muhammadiyah dan masuk dalam daftar Pahlawan Nasional Indonesia.

Namun, ada kisah menarik dibalik kebesaran Buya Hamka itu. Simak cerita di bawah ini untuk lebih jelasnya.
, , , ,

Info Lomba: Festival Hadrah Al-Banjari Se-Jatim Terbaru 2015 (Pelajar & Mahasiswa)

Poster Festival Al-Banjari Cinta Rebana ITS Dies Natalis ITS ke-55 tahun 2015
ITS Surabaya, 
Sebuah keutamaan yang terkandung dalam budaya dan kearifan lokal yang bertajuk Sholawat dan Seni Hadrah Al-Banjari perlu kiranya diangkat menjadi sebuah jangkar-jangkar penjaga moralitas bangsa dan menjadi lentera penerang di tengah gelapnya peradaban.

Tuesday, 15 September 2015

,

Bergurulah dan Bertanyalah Hanya Pada “Al Mukarrom Asy Syaikh” Google

Karyabuatanku.comPerkembangan zaman amatlah pesat terutama di ranah teknologi. Dahulu, jika seseorang akan mencari ilmu, mereka akan bertanya kepada orang tua mereka kemudian orang tua mereka akan mencarikan guru terbaik bagi anak mereka itu.

Sebelum internet didapat dengan mudahnya seperti saat ini, hubungan silaturahim antara saudara yang berjauhan hanya bisa disambungkan melalui telepon rumah. Bahkan ada yang lebih klasik lagi dibandingkan dengan telepon rumah, surat. Ya, melalui surat orang-orang memberikan kabar kepada sanak saudara mereka yang berada jauh di seberang pulau.

Kembali lagi pada cara masyarakat mencari ilmu, khususnya dalam mendalami ilmu agama. Dahulu sebelum adanya "syaikhul kabir al allamah" Google maupun mesin pencari lain seperti halnya sayyidina yahoo, untuk mendalami pengetahuan agama masyarakat memilih pondok pesantren. Pun ketika mereka kesulitan dan belum tahu akan hukum agama, orang yang mereka tuju adalah para kiai pengasuh pondok pesantren tadi. Tapi hal itu sangatlah ribet, tidak efektif, buang-buang waktu saja. 

Saat ini lebih enak bertanya pada "Al Mukarrom Asy Syaikh" Google, selain langsung ada jawabannya, efesiensi waktu pun bisa diperoleh. Tak hanya itu saja, masih ada keuntungan lain jika bertanya pada "syaikhul kabir al allamah" Google, murah dan gampang didapatkan di mana saja. Ya, semua alasan tadi jika dinalar cukup masuk akal. 

Selain itu, buat apa mencari ilmu di pesantren. Belajar tak perlu adanya sanad (runtutan dari mana ilmu itu didapatkan), yang penting cukup hasilnya saja. Sanad buat apa? Sanad hanya akan membuang-buang waktu, menghabiskan uang, ribet. Jadi, cukuplah berguru dan bertanya pada "Al Mukarrom Asy Syaikh" Google maupun "sayyidina" Yahoo.

Monday, 14 September 2015

Heboh! Memanfaatkan Momen Kesedihan Orang Lain Jadi Tren

Gambar Hanya Ilustrasi Belaka
Ada-ada saja orang saat ini. Di saat ada orang lain kesusahan, dirinya malah memanfaatkan momen tersebut dengan hal yang sangat tak penting. Inilah hal yang saya maksud itu.

Thursday, 10 September 2015

, , ,

Bekali Santri Baru Pesantren Darussalam Sukolilo dengan Wawasan Aswaja

Ustadz Ma'ruf Khozin Sedang Menjelaskan Materi Ke-aswajaan
Surabaya, NU Online
Pondok Pesantren Darussalam Keputih, Sukolilo, Surabaya, Jawa Timur, menyambut kedatangan para santri baru dengan kegiatan Orientasi Pengenalan Pondok Pesantren (OP3K) Darussalam. Kepada mereka, pesantren rintisan penggerak NU Surabaya KH Abdus Syakur ini memberikan bekal di antaranya pengetahuan Ahlussunnah wal Jamaah (Aswaja).