Wednesday, 2 March 2016

Filled Under: , , ,

Notes: 22 Pertanyaan untuk Pendukung Pemberontak Suriah


Karyabuatanku - Akhir-akhir ini, sering muncul bahasan di masyarakat mengenai perang di Suriah. Perang itu menurut media diakibatkan oleh ulah pemberontak yang jengah dengan sikap dari rezim Assad yang menindas kepada rakyatnya. Selain itu masih ada juga issue yang menyatakan bahwa perang di Suriah itu adalah sunni vs syiah. Namun, sebenarnya ada kepentingan di balik semua itu. Mari kita simak sebuah catatan yang berisi 22 Pertanyaan untuk Pendukung Pemberontak Suriah dari Ismail Amin, WNI yang saat ini tinggal di Iran.

Di awal tahun 2011 the Arab spring juga melanda Suriah. Aksi demonstrasi menuntut perubahan terjadi disejumlah kota besar di Suriah. Memang tidak bisa dipungkiri ada kejenuhan rakyat Suriah atas rezim Assad yang telah berlangsung sejak tahun 1971 dibawah Hafez al Assad yang kemudian digantikan oleh puteranya, Bashar al Assad sejak tahun 2000. Meskipun rezim Assad terbilang otoriter dikarenakan adanya ancaman dari luar (utamanya Israel) dan ketidakstabilan internal namun kebijakan-kebijakan Assad cenderung populis. Kebijakan populis itu terlihat dengan diterapkannya pelayanan kesehatan gratis dan pendidikan gratis hingga universitas. Selama 40 tahun klan Assad berkuasa (Hafez dan Bashar), pembangunan sosial dan ekonomi Suriah terbilang memuaskan, bahkan Suriah menanggung ratusan ribu pengungsi dari Palestina dan Irak dan terkenal dikawasan Timur Tengah sebagai negara terbaik dalam memberikan pelayanan sosial dan ekonomi kepada pengungsi.
Assad adalah simbol pembelaan terhadap kemerdekaan Palestina
Di bawah pemerintahan klan Assad, rakyat Suriah bisa dikatakan hidup makmur dan sejahtera, dengan hutang luar negeri nyaris nol. Namun semua itu berubah drastis pasca terjadi konflik internal yang melibatkan kekuatan asing. Suriah menjadi porak-poranda, dan sejumlah wilayahnya berada dibawah kendali kelompok-kelompok pemberontak. Rakyat Suriah yang sebelumnya sejahtera mendadak menjadi pengungsi yang mencari suaka dinegara-negara tetangga sampai ke Eropa. 

Tidak ada satupun rezim di dunia ini yang tidak mempunyai oposisi, seberapapun ngototnya rezim itu berupaya mensejahterahkan seluruh lapisan rakyatnya. Tidak terkecuali rezim Assad. Selain ancaman eksternal, rezim Assad juga dihantui ancaman internal yang setiap saat bisa meronrong dan menggulingkan kekuasaannya. Jadi, hal yang wajar, jika terjadi aksi demonstrasi dan unjuk rasa yang dimobilisasi oleh gerakan-gerakan rakyat untuk menuntut perubahan ataupun penggantian rezim, namun kemudian menjadi tidak wajar jika aksi demonstrasi itu melibatkan kekuatan-kekuatan yang didukung dan disponsori kepentingan-kepentingan asing. Sebut misalnya, di Washington, London, Berlin, Paris, Ankara, Kairo, al-Manamah, Shanaa, Tehran, Jakarta dan kota-kota yang menjadi ibukota negara, adalah wajar jika rakyat menggelar aksi demonstrasi, sampai tidak jarang terjadi bentrokan antara aparat keamanan dan demonstran yang menelan korban jiwa dan luka-luka. Namun demonstrasi di Damaskus dan sejumlah kota di Suriah menjadi tidak biasa, terlebih lagi, para demonstran tidak sekedar menggelar aksi damai melainkan angkat senjata, meledakkan bom-bom berkekuatan tinggi dan mendapatkan suplay senjata dari luar negeri. 
Suriah sebelum dan sesudah perang
Pertarungan antara rezim Assad dan pihak oposisi yang berkekuatan senjata membuat konflik semakin berlarut-larut. Kelompok oposisi yang didukung AS, Israel, negara-negara Barat, Turki, Arab Saudi dan Qatar berhadapan dengan rezim Assad yang didukung China, Rusia dan Iran. Melalui jaringan media yang dimiliki AS, dibentuklah opini publik bahwa rezim Assad adalah rezim otoriter yang menindas rakyat tidak ubahnya rezim-rezim Arab lainnya yang sebelumnya telah terguling, seperti Husni Mubarak, Ben Ali dan Moammar Qhadafi. Sementara Arab Saudi, melalui posisinya yang kuat dalam dunia Islam menghasut dengan menggunakan isu sektarian Sunni vs Syiah, Assad yang Alawi menghabisi rakyat Suriah yang mayoritas Sunni.

Melalui yayasan-yayasan dan lembaga-lembaga keagamaan yang didanai Saudi diseluruh dunia, umat Islam dihasut untuk mendukung kejatuhan Bashar Assad dan memberikan simpatiknya pada kelompok oposisi dan pemberontak. Fatwa dari ulama-ulama pilihan istana berhamburan, mulai dari ajakan jihad ke Suriah untuk menggulingkan Bashar Assad sampai tingkat ekstrim yang memfatwakan, halalnya darah Bashar Assad untuk ditumpahkan. Fatwa tersebut direspon cepat, dengan masuknya kelompok-kelompok militan bersenjata dari berbagai negara ke Suriah dengan mengklaim diri sebagai mujahidin. Media-media sosial bekerja cepat menyulut permusuhan dan kebencian pada Assad, mulai dari klaim bahwa Bashar Assad mengaku Tuhan dan memaksa rakyat Suriah menyembahnya sampai pada kelaparan dan kesulitan hidup yang melanda rakyat Suriah yang ditindas rezim sembari mengumpulkan dana dari umat Islam dengan kedok bantuan kemanusiaan. Sementara kesulitan hidup rakyat Suriah, justru berawal dari masuknya campur tangan militan asing yang ngotot berambisi merebut kekuasaan Assad. 
Dukungan rakyat Suriah kepada Bashar Assad dengan memenangi pemilu
Betapapun jenuhnya rakyat Suriah terhadap Assad, mereka tetap tidak ingin negara mereka dijajah dan berada dalam cengkraman kekuatan asing, karenanya rakyat Suriah justru berbalik dan kemudian secara besar-besaran menggelar dukungan terhadap Assad dalam menghadapi oposisi yang disupport pihak asing. Buktinya, melalui referendum dan pemilu, Assad tetap mendapat kepercayaan menjadi penguasa di Suriah. Buktinya, Assad tetap tak bergeming dari kedudukannya sebagai presiden meski telah dihantam kanan kiri, berkat dukungan penuh dari rakyatnya. 

Karena itu, menyederhanakan persoalan bahwa koflik Suriah adalah konflik Sunni vs Syiah, sangat tidak beralasan. Ada banyak pertanyaan yang harus terjawab, jika tetap berdalih isu sektarian telah menjadi pemicu lahirnya tragedi kemanusiaan di Suriah. Berikut 22 pertanyaan yang harus dijawab oleh pihak yang tetap ngotot mendukung pemberontakan di Suriah dengan dalih Sunni vs Syiah. 

1. Kalau Assad membunuhi rakyatnya yang Sunni (yang justru mayoritas di Suriah), apa alasannya baru melakukannya sekarang, mengapa tidak dari dulu (klan Assad berkuasa sejak tahun 1971)? 

2. Kalau Assad dikatakan menindas rakyatnya yang Sunni, mengapa pengungsian rakyat Suriah kenegeri-negeri tetangganya justru baru terjadi setelah kelompok-kelompok militan yang berambisi menjatuhkan Assad itu masuk Suriah? Sebelum tahun 2011, tidak ada sorotan sedikitpun atas Suriah, terutama mengenai pelanggaran HAM dan ketidak adilan terhadap penganut mazhab tertentu. Tidak pula ada secuilpun informasi menyebutkan, Assad menelantarkan, memiskinkan dan merampas hak-hak rakyatnya yang Sunni. Apa karena Suriah negara tertutup dan membungkam pers atau memang klaim-klaim itu tidak ada? 

3. Kalau dikatakan Assad membenci dan memusuhi Sunni, mengapa Mufti Agung Suriah justru ulama Sunni? Almarhum Syaikh Ramadhan al Bouthi (menjabat Mufti Agung Suriah semasa hidupnya) justru gugur oleh aksi bom bunuh diri kubu pemberontak, bukan oleh tangan rezim. 
Bashar Assad bersama dengan ulama-ulama Sunni Suriah selepas shalat berjamaah
4. Kalau dikatakan Assad anti Sunni, apa manfaatnya menerima pengungsi dari Palestina yang kesemuanya Sunni dan memberikan pelayanan yang terhitung memuaskan bagi pengungsi? Assad bisa saja menutup perbatasannya sebagaimana yang dilakukan Mesir era Husni Mubarak sehingga pengungsi Palestina tidak bisa masuk Suriah. Mengapa itu tidak dilakukannya, sebagai bukti bencinya dia pada komunitas Sunni? 

5. Kalau Assad anti Sunni, mengapa Assad mendukung perjuangan kemerdekaan Palestina bahkan memberi fasilitas kantor untuk HAMAS di Damaskus? Suriahpun memegang peranan penting dalam perang Arab melawan Israel berkali-kali. 
6. Jika Assad anti Sunni, mengapa komposisi pemimpin militer Suriah, 43% Sunni dan 37% Alawi, sementara komposisi menteri 58% Sunni dan 20% Alawi, bahkan Fahd Jassem al-Freij, Menteri Pertahanan Suriah justru orang Sunni? 

7. Kalau Assad mengaku Tuhan dan meminta disembah, mengapa dilayar TV disiarkan disetiap acara penting keagamaan (shalat Jum'at, shalat Id) Assad masih shalat bahkan diimami oleh imam jamaah dari ulama Sunni? 

8. Kalau Assad tidak mendapat dukungan rakyat, mengapa Assad masih bisa bertahan sampai saat ini sebagai penguasa tertinggi di Suriah? 

9. Kalau Assad hendak digulingkan dengan alasan demokrasi, mengapa negara-negara yang mendukung penggulingan itu seperti Arab Saudi dan Qatar justru negara depostik yang anti demokrasi? 

10. Kalau Assad itu anti Sunni dan musuh besar umat Islam, mengapa AS dan Israel justru mendukung kejatuhannya, apa AS dan Israel itu pembela umat Islam? 

11. Kalau fatwa dan seruan untuk berjihad begitu mudahnya keluar dari lisan para mufti Saudi dan Qatar untuk berjihad menjatuhkan Bashar Assad, mengapa fatwa serupa tidak diberlakukan untuk berjihad melawan rezim Zionis? 

12. Kalau masuknya pasukan militan bersenjata dari berbagai negara ke Suriah untuk membela rakyat Suriah yang dizalimi rezim Assad mengapa hal yang sama tidak pernah dilakukan untuk membela rakyat Palestina yang menjadi bulan-bulanan rezim Zionis, apakah karena rakyat Suriah yang terzalimi itu Sunni, sementara rakyat Palestina bukan Sunni?
Pemberontak Suriah dari berbagai negara
13. Kalau Turki, Arab Saudi dan Qatar punya dana besar untuk mendanai dan mensuplai senjata untuk kelompok oposisi dan pemberontak di Suriah, mengapa hal yang sama tidak dilakukan untuk mendanai dan mensuplay senjata kelompok-kelompok yang memperjuangkan kemerdekaan Palestina? 

14. Kalau Turki, Qatar dan Arab Saudi protes atas ikut campurnya Rusia untuk menghabisi ISIS di Suriah, mengapa ketika yang ikut campur itu Amerika Serikat, ketiga negara Arab itu justru mensupport? 
Kalau untuk menginvasi Yaman dan Suriah, Saudi, Turki dan Qatar punya dana besar untuk mengongkosi senjata dan alat tempur yang canggih, namun untuk melawan Israel, pejuang Palestina dibiarkan tetap bermodalkan lemparan batu
15. Kalau dikatakan aksi-aksi teror yang dilakukan ISIS, Jabhah an Nushra, al Qaedah dan kelompok militan lainnya bertujuan membela rakyat Suriah yang Sunni, mengapa aksi serupa tidak dilakukan untuk membela rakyat Palestina yang Sunni? Mengapa tidak ada aksi bom bunuh diri yang dilakukan anasir ISIS dll di Tel Aviv sebagaimana yang mereka lakukan berkali-kali di Damaskus, Homs dll? 

16. Kalau dikatakan Bashar Assad harus dijatuhkan karena rakyat Suriah menuntut itu yang karena itu Saudi mensupport gerakan bersenjata untuk menggulingkan Assad, lantas mengapa di Yaman, Saudi malah bertindak sebaliknya dengan membela Mansour al Hadi yang yang terguling oleh kekuataan tuntutan rakyat? Konyolnya, Saudi malah menginvasi Yaman dengan ambisi mengembalikan al Hadi pada posisinya sebagai presiden Yaman. Bukankah ini standar ganda yang hipokrit? 

17. Kalau Saudi punya jet-jet tempur canggih (meskipun itu sekedar beli dari AS), mengapa itu malah dikerahkan untuk memborbardir Yaman yang tidak punya satupun jet tempur, bukannya menghantam Israel yang menjadi akar semua konflik berdarah di Timur Tengah? 

18. Kalau dikatakan rakyat telah jenuh oleh kekuasaan klan Assad, apakah Saudi dan Qatar telah memastikan rakyatnya tidak jenuh pada kekuasaan keluarga yang berlaku di kedua negara kerajaan itu? Assad melakukan referendum sebagaimana tuntutan oposisi dan berhasil membuktikan diri sebagai pilihan rakyat, apa raja Saudi dan Qatar berani melakukan referendum di negara mereka? 

19. Kalau dikatakan konflik di Timur Tengah dipicu pertikaian mazhab yang karena itu disebar berita, rezim Iran yang Syiah menindas Sunni Iran, mengapa tidak ada kelompok militan asing satupun yang masuk Iran untuk membela kelompok Sunni, sebagaimana yang terjadi di Suriah?
20. Kalau benar Assad membantai rakyat Suriah yang Sunni, mengapa untuk menunjukkan itu yang digunakan justru foto-foto korban pembantaian Zionis di Gaza, gelandangan yang kelaparan di Eropa, korban pembunuhan sadis di Brasil (sebagaimana yang diposting Farid Okbah yang kemudian diklaim korban rezim Assad) dan foto-foto lainnya yang terbukti hoax dan rekayasa? 

21. Kalaupun pada akhirnya Bashar Assad bisa digulingkan melalui kekuatan senjata, lantas siapa yang bisa menjamin bahwa kondisi Suriah akan jadi lebih baik dibanding ketika Assad berkuasa? Ataukah justru korporasi-korporasi asing yang didominasi AS yang mengambil banyak keuntungan dari kejatuhan Assad sebagaimana terbukti di Libya pasca penggulingan paksa Moammar Qhadafi? 

22. Kalau dikatakan, Palestina baru bisa dibebaskan dan Israel dirontokkan setelah sebelumnya menghancurkan negara-negara Syiah (Suriah, Iran, Lebanon, Irak dan Yaman) lantas mengapa untuk menghancurkan negara-negara Syiah itu yang dilakukan justru bekerjasama dengan AS yang merupakan sponsor utama berdirinya negara Israel? 

Itulah daftar pertanyaan yang harus dijawab pihak-pihak yang mengklaim pemicu konflik Suriah adalah pertikaian mazhab dan sedemikian lugu melakukan pemetaan konflik bahwa semua tragedi di Suriah bermula dari rezim Suriah yang dikuasai Alawi (baca: Syiah) melakukan teror mematikan atas komunitas Sunni di Suriah. 
Silahkan baca berita mengenai kondisi umat Islam di Tajikistan. Tajikistan negara pecahan Uni Soviet dengan penduduk 90% muslim tapi dikuasai rezim yang mengidap penyakit Islamophobia akut. Emomali Sharifovich Rahmonov, presiden Tajikistan memberlakukan aturan yang memperkosa hak-hak umat Islam di negara tersebut. Bahkan peraturan-peraturan anti Islam yang diberlakukan lebih ekstrem dari yang diberlakukan di Barat. Di Tajikistan, penggunaan jilbab dilarang, laki-laki muslim dilarang memelihara jenggot, anak-anak muda dibawah 18 tahun dilarang memasuki masjid, aktivis-aktivis Islam yang mengajarkan Islam akan dipenjara dan menjadi tahanan politik bertahun-tahun tanpa melalui proses peradilan yang jelas, peredaran buku-buku Islam dilarang keras dan kebijakan anti Islam lainnya. Namun apa ada kecaman Mufti-mufti Islam (khususnya dari Arab Saudi) terhadap rezim Rahmonov? Apa ada pihak yang mencoba menggulingkan kekuasaannya dengan alasan membela hak-hak umat Islam di Tajikistan? Apa Assad memberlakukan kebijakan anti Islam dinegaranya sebagaimana Rahmonov menerapkannya di Tajikistan? 
Apa belum juga ditemukan benang merahnya, bahwa rezim-rezim di Timur Tengah bahkan di seluruh dunia, yang jika itu menguntungkan AS maka rezim itu akan dibiarkan bahkan didukung meski otoriter dan menindas rakyatnya, namun jika menghambat kepentingan-kepentingan AS maka berambisi untuk dijatuhkan?. Melalui tangan-tangan media yang dikendalikan AS maka dibentuklah opini publik, bahwa rezim itu anti demokrasi, tirani, melanggar HAM, anti kemanusiaan bahkan dimasukkan dalam daftar jaringan terorisme internasional. Ataupun kalau perlu, menggunakan kekuatan ekonomi dengan memberlakukan embargo untuk melumpuhkan rezim tersebut, sampai pada tingkat menginvasi, sebagaimana yang dilakukan AS atas Vietnam, Afghanistan, Irak dan Libya melaui NATO. Sementara Arab Saudi sebagai kacung AS, memuluskan proyek-proyek AS melalui fatwa-fatwa keagamaan. Anda bisa mengecek kembali, apa fatwa ulama-ulama Saudi mengenai Saddam Husain, Moammar Qhadafi, Osama bin Laden, Hizbullah Lebanon, HAMAS, Ikhwanul Muslimin, Bashar Assad, Houthi Yaman, rezim Iran dan siapapun yang anti AS?. Kalau bukan menyebut mereka kafir, minimal menyebut mereka teroris. 

Terakhir, silahkan berpikir sebelum bertindak dan meyakini, bahwa yang terjadi di Suriah adalah gerakan perlawanan rakyat menghadapi pemerintahan yang zalim untuk menegakkan demokrasi sebagaimana sebelumnya yang diisukan untuk menjatuhkan Qhadafi di Libya, atau justru yang bertempur adalah kepentingan korporasi asing untuk mengambil keuntungan atas kekayaan alam Suriah melawan penguasa yang berpihak pada kepentingan negara dan rakyatnya. Bashar Assad tidak perlu dibela, dia bukan malaikat yang tidak pernah salah, bukan pula Nabi yang memimpin dengan bimbingan wahyu, dia tidak sempurna namun setidaknya oleh rakyat Suriah, dia adalah harapan dan simbol perlawanan, bahwa Suriah menolak tunduk dan dijajah. 

Silahkan. 


Qom, 1 Maret 2016 

WNI sementara menetap di Iran 

* Jika anda merasa ini bermanfaat, silahkan disebar... Katakan tidak pada perang dan keserakahan..... 

�����)� 

dedicated for: Taty Saja, Raihana Flanel, Alam Yin, Dina Sulaeman, Jon Ali, Alkham Ismail Zahra, Awalluddin Wahidin, Suardi Saleh, Abdul Aziz Maloko, Dwi Avianti Budihabsari, Febri Jan, Suriati Amien, Hari Haryanto, Joserizal Jurnalis, Nandar Daeng Jarung, Muhrir, Rahmat Utomo 

============================================================================= 

Sumber: 

Comments
0 Comments



0 comments: