Wednesday, 4 May 2016

Filled Under: ,

Surat Cinta Untuk: Ayahanda Kiai Ali Mustafa Yaqub

Surat Cinta Untuk: Ayahanda Kiai Ali Mustafa Yaqub

Karyabuatanku - Meninggalnya salah satu kiai kharismatik Indonesia yang terkenal handal di bidang Ilmu Hadis, Kiai Ali Mustafa Yaqub, pada Kamis (28/4) kemarin ternyata masih memberikan kenangan tersendiri pada orang yang mengenalnya. Salah satunya dari Hilmy Firdausy, salah seorang santri di pondok asuhan sosok kiai yang pernah nyantri di Pondok Tebu Ireng ini, pondok Darus Sunnah. Ia menulis tulisan dengan judul Surat Cinta Untuk: Ayahanda Kiai Ali Mustafa Yaqub. Selengkapnya, silahkan baca postingan berikut ini.

Surat Cinta Untuk: 
Ayahanda Kiai Ali Mustafa Yaqub

Bagaimana Kiai? Sudahkah kau bertemu Kiai Idris Kamali gurumu? Kiai Abdurrahman Wahid? Kiai Hasyim Asyari? Tak kubayangkan betapa lebar senyummu Kiai, kembali berkumpul, menenun kembali liqa'-liqa pertemuan bersama mereka. 

Di sini kami masih saja menangis Kiai. Entah apa yang kami tangisi, kepergianmu atau ketakberdayaan kami melanjutkan medan perjuanganmu. Bagaimana mungkin kami menangisi kepergianmu yang dipanggil pulang oleh kekasihnya? Bagaimana mungkin kami mengasihani kepergian seseorang yang kalamnya subur berhumus shalawat? Bagaimana mungkin kami menangisi engkau yang tersenyum hendak bertemu Rasulallah? Bagaimana mungkin kami menangisi kepulangan indah seseorang menuju kampung halaman para wali?

Kami menangis Kiai, karena kami tahu jalan yang engkau tempuh terlalu terjal, tajam berbatu, semak berduri dan terlalu panjang untuk kami lanjutkan. Kami menangisi diri kami, Kiai; pundak kami yang terlalu mudah tumbang, kaki kami yang kerap tertekuk ketika ujian datang.

Bagaimana Kiai? Sudahkan kau bertemu Imam al-Bukhari? Imam Muslim? Para Sahibus Sunan? Bagaimana wajah mereka Kiai? Seterang apa sinar kalam Rasulillah terpendar dari senyum mereka? Mungkin sekarang kau tengah duduk bersama mereka. Menyelami haudl, bermandikan kausar, menikmati hidangan surga. Mungkin kini kau telah berdiri tegap di sisi Rasulillah.. Menjadi khadimnya, sebagaimana yang engkau cita-citakan Kiai. Mungkin kini kau sedang membingkai beberapa percakapan dengan Habibullah, sembari memijat kali Nabi dan menata terompah beliau, kau tersenyum karena sejak tadi Rasulullah mengusap kepalamu. 

Doakan kami Kiai... Doakan kami agar kuat! Doakan kami tetap istiqomah di jalan khidmah dan pengabdian pada ummat! Doakan kami sedikit lagi lebih pintar, sedikit lebih bijak daripada sebelumnya. 

Di mana dan kapan kita akan bersua, Kiai? 

Dari Hilmy Firdausy 
Santri Darus-Sunnah 


Comments
0 Comments



0 comments: