Sunday, 31 July 2016

Kiai Mas Subadar Wafat, Inilah Instruksi PBNU

Karyabuatanku - Sabtu malam Ahad (30/7), tepatnya sekitar pukul 19.43 WIB. Seorang kiai kharismatik asal Pasuruan yang juga menjabat sebagai Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Mas Subadar telah berpulang. Beliau akan dimakamkan hari ini, Ahad (31/7) pukul 13.00 WIB di pemakaman Ngladi yang merupakan pemakaman keluarga.

PBNU menyampaikan ucapan beserta belasungkawa dan instruksi kepada Pengurus Wilayah dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama serta seluruh warga Nahdliyin seluruh Indonesia agar menyelengarakan Sholat Ghoib dan Tahlil ditujukan untuk Almarhum.

Berikut ini adalah isi surat instruksi PBNU kepada Nahdliyin:
PENGURUS BESAR NAHDLATUL ULAMA
Jl. Kramat Raya No. 164 Jakarta 10430 Telp. (021) 31923033, 3908424 Fax (021) 3908425
E-mail : setjen@nu.or.id - website : http://www.nu.or.id

Nomor      : 543/C.I.34/04/2016                                                              Jakarta, 25 Syawwal 1437 H
Lamp.       : -                                                                                                         30 Juli           2016 M
Perihal      : Instruksi Shalat Ghaib & Tahlil

Kepada Yang Terhormat
Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama
Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama
Pengurus Lembaga Nahdlatul Ulama
Pengurus Badan Otonom Nahdlatul Ulama

di   -
TEMPAT

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Salam silaturrahim kami sampaikan, teriring do'a semoga kita semua selalu dalam lindungan Allah SWT serta diberikan kemudahan dalam menjalankan tugas sehari-hari.

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama menyampaikan duka cita yang mendalam atas wafatnya KH Mas Subadar, Rais Syuriah PBNU. Berkaitan dengan wafatnya KH Mas Subadar tersebut, PBNU mengintruksikan kepada seluruh Pengurus Wilayah dan Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama serta seluruh warga Nahdliyyin se-Indonesia agar menyelenggarakan Sholat Ghoib dan Tahlil ditujukan untuk Almarhum.

Demikian Surat instruksi ini kami sampaikan, atas perhatian dan seluruh jajaran Nahdlatul Ulama, kami sampaikan terima kasih.

و الله الموفق إلى أقوام الطريق
والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

DR. KH. Ma'ruf Amin     KH. Yahya Cholil Staquf      Prof. Dr. KH. Said Aqil Siroj, MA     DR. Ir. H. A. Helmy Faishal Zaini
Rais Aam                             Katib Aam                                  Ketua Umum                                Sekretaris Jenderal

Berikut ini adalah bukti scan instruksi PBNU kepada Nahdliyin:

, , , ,

Kabar Duka: Rais Syuriah PBNU, Kiai Mas Subadar Wafat

Karyabuatanku - Innalillahi wa inna ilaihi raji'un. Kabar duka kembali menyelimuti warga Nahdlatul Ulama (NU) atau lebih sering disebut dengan Nahdliyin. Salah satu Rais Syuriah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Mas Subadar asal Pasuruan Jawa Timur wafat tadi malam, Sabtu malam Ahad (30/7) sekitar pukul 19.43 WIB. 

Meninggalnya Kiai Mas Subadar, salah satu rais syuriyah PBNU, merupakan kabar duka yang mengejutkan warga NU. Bagi masyarakat, warga NU, maupun alumni pesantren Besuk Kejayan Pasuruan yang ingin memberikan penghormatan terakhir diberi kesempatan sampai Ahad (31/7), pukul 13.00 sebelum jenazah dikebumikan di pemakaman Ngladi yang merupakan pemakaman keluarga.

Kabar tersebut langsung tersebar di berbagai media sosial Nahdliyin. Termasuk di grup-grup Whatsapp. Ketika dikonfirmasi kepada pengurus Lembaga Bahtsul Masail PBNU H Mahbub Ma'afi di Jakarta, ia membenarkan wafatanya kiai tersebut. 

KH Mas Subadar sangat dikenal di kalangan jam'iyyah umat Islam terbesar di Indonesia ini. Ia sering mengemban tugas-tugas khusus di organisasi tersebut. Di forum kiai, Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Besuk, Pasuruan, Jawa Timur sering ditunjuk sebagai juru bicara. Sikapnya yang teguh dan senantiasa berpegang teguh pada koridor kajian fiqh klasik itulah yang menyebabkan sering dilibatkan dalam bahstul masa'il yang diselenggarakan NU. 

Tutur katanya juga halus, argumentatif, dan mampu menyesuaikan diri dengan bahasa masyarakat yang dihadapi. Ini membuat masyarakat di kawasan Tapal Kuda, Jawa Timur sering mendatangi pengajian yang diisinya. Mereka tertegun menyimak ceramah dan orasinya. 

Ia lahir pada 1942 di sebuah desa Besuk, Kejayan, Pasuruan dari pasangan KH Subadar dan Hj. Maimunah. Pada usia 3 bulan (1942), ia telah yatim karena ditinggal wafat sang ayahanda, KH Subadar. Sehingga ia banyak belajar mandiri dengan diasuh oleh ibundanya yakni Hj Maimunah. 

Sumber:

Thursday, 28 July 2016

, , , , ,

Dhawuh KH Abdullah Faqih Langitan

Karyabuatanku - Semua santri pasti tahu siapa itu KH Abdullah Faqih. Beliau adalah salah satu kiai dari daerah Jawa Timur, tepatnya di Widang, Tuban. Beliau dilahirkan di Widang, Tuban pada 2 Mei 1932. Selain itu, semasa hidupnya adalah seorang kiai atau Ulama yang berpengaruh serta pengasuh Pondok Pesantren Langitan.

Kiai asal Tuban ini pernah pula nyantri di Pondok Pesantren Al-Hidayat walaupun sebentar dan pernah pula menjadi santri dari Sayyid Muhammad Alawi Al-Maliki. Beliau wafat pada 29 Februari 2012 di Widang, Tuban saat usia beliau 79 tahun.

Berikut ini adalah dhawuh dari Almaghfurlah KH Abdullah Faqih. Dhawuh beliau mirip dengan syair yang ada dalam kitab Kifayatul Atqiya' yang berbunyi berikut ini: 

لِسَلاَمَةِ الدُّنْيَا خِصَالٌ أَرْبَعٌ # غَفْرٌ لِجَهْلِ القَوْمِ مَنْعُكَ تَجْهَلاَ
وَتَكُونَ مِنْ سَيْبِ الأُنَاسي آيِسًا # وَلِسَيْبِ نَفْسِكَ للأُنَاسِي بَاذِلاَ
Empat hal yang bisa menyelamatkan seseorang di dunia. 
1. Suka memaafkan orang lain
2. Tidak suka membodohi (menyakiti) orang lain
3. Tidak suka mengharap pemberian orang lain
4. Suka memberi kepada orang lain

Semoga bermanfaat.

Sumber:

Thursday, 21 July 2016

, , , , , , , ,

Kalam Syaikh Mutawalli as-Sya'rawi: Jangan Bersedih

"Banyaknya kesedihan hendaknya tidak menjadikan muka cemberut di depan umum. Baginda Rasulullah ﷺ adalah orang yang paling banyak bersedih (memikirkan umatnya), tetapi beliau adalah orang yang paling banyak senyumnya di hadapan manusia." - Syaikh Mutawalli as-Sya'rawi -

Follow juga akun sosmed kami lainnya.
Semoga barokah. Aamiin.

Sunday, 17 July 2016

,

Humor: Qulhu Wae Lek! (Versi Arab)

Karyabuatanku - Pernahkah kita mendengar ceramah KH Anwar Zahid, kiai nyentrik asal Jawa Timur, yang pada salah satu ceramahnya menceritakan ada seorang imam lupa bacaan surat yang akan dibaca kemudian disahut oleh makmumnya "Qulhu wae, Lek!"? Kali ini ada suatu kisah yang hampir mirip dengan apa yang diceritakan oleh KH Anwar Zahid, namun dalam versi Arab. Penasaran kan? Silahkan baca postingan berikut untuk lebih lanjutnya.

Diceritakan dalam kitab Akhbār al-Humqā wa al-Mughaffalīn bahwa di suatu daerah terdapat seorang imam yang terkenal dengan bacaan suratnya yang panjang-panjang. 

Suatu hari, seperti biasa, si imam itu menjalankan tugasnya sebagai imam sholat. Tatkala selesai membaca surat Al-Fātihah, si imam itu pun lalu membaca surat Yūsuf yang terdiri dari 111 ayat. Para makmum yang menyadari bahwa surat yang dibaca imam itu terlalu panjang, akhirnya satu persatu meninggalkan barisan sholat. Menyadari bahwa makmumnya perlahan habis, si imam pun akhirnya merubah suratnya. Tiba-tiba imam itu membaca: "Subhānallaāh! Qul Huwallāhu Ahad".

Mendengar imam membaca surat "Qulhu" itu, para makmum yang meninggalkan barisan sholat tadi, tiba-tiba kembali ke dalam barisan dan melanjutkan sholatnya kembali bersama imam. 

(Dikutip dari kitab Akhbār al-Humqā wa al-Mughaffalīn hal. 120 karangan Jamāl al-Dīn Abū al-Faraj 'Abd al-Rahmān bin 'Alī bin Muhammad al-Jauzī atau yang dikenal dengan Ibn al-Jauzī)

Sumber:

Saturday, 16 July 2016

, , , , , , ,

Habib Jamal Baagil: Memandang Wajah Ulama adalah Ibadah

Karyabuatanku - Pernahkah kita menjumpai atau memandang wajah ulama baik itu dalam suatu acara seperti pengajian ataupun dalam kesempatan lain seperti saat kita bersilaturrahim ke rumah ulama? Bila pernah, mari kita simak Kutipan Ceramah Al-Habib Achmad Jamal bin Thoha Baagil (pimpinan Majelis Ta'lim Ar-Ridwan, Malang) mengenai Memandang Wajah Ulama adalah Ibadah.

Ada suatu kaum yang daerah tempat mereka tinggal tidak turun hujan hingga bertahun-tahun. Mereka sudah hampir mati kekeringan. Shalat Istisqa' dilakukan berkali-kali, tetapi hujan tidak kunjung turun. 

Kemudian ada seorang yang dianggap awam, memasuki daerah tersebut dan berkata, "Wahai hadirin. Apa yang kalian lakukan?"

"Istisqa'. Minta hujan," jawab mereka. 

"Bolehkah saya membantu berdo'a agar hujan turun?" pinta orang yang dianggap awam tadi. 

"Lha wong orang satu desa sudah do'a dan istisqa' belum juga turun hujan, kok sampean berani nantang turun hujan?" sahut warga kepada orang itu. 

"Mungkin doa saya diterima oleh ALLAH," tawarnya lagi kepada warga. 

"Ya sudah kalau begitu, monggo silahkan," jawab warga. 

Kemudian orang asing tersebut menengadahkan tangan ke langit seraya berdo'a, "Ya ALLAH, berkat apa yang ada dimataku ini, tolong turunkan untuk mereka hujan ya ALLAH." Tidak lebih dari 10 menit langit mendung. Tidak sampai setengah jam kemudian turunlah hujan. 

Mereka pun bertanya karena penasaran, "Apa do'a yang kau ucapkan?" 

"Saya hanya tawassul dengan amal saya," jawab orang tadi kepada warga. 

"Apa amalan yang ada di matamu?" tanya warga kepada pemuda tadi. 

"Saya hanya tawasul dengan mata saya yang pernah memandang seorang wali dan ulama, bernama Abu Yazid al-Busthami," jawab pemuda tadi. 

Memandang wajah seorang alim adalah ibadah. Ini merupakan salah satu kemuliaan yang diberikan ALLAH kepada hambaNYA yang berilmu. Berdo'a agar keinginan dikabulkan oleh ALLAH melalui tawassul dengan amal, dalilnya tentu sudah kita ketahui. Karena haditsnya shahih dan masyhur. Yaitu hadits tiga orang yang terperangkap di dalam gua.

والله أعلمُ بالـصـواب 

--------------------------------------------------- 

Gambar : Habib Jamal bin Thoha Baagil bersama dengan Habib Ali Al Jufri 

Repost: @islamsantun (ig) dengan sedikit perubahan. 

Friday, 8 July 2016

, , ,

KH Sya'roni Ahmadi: Boleh Menggunakan Kata Sayyidina

Karyabuatanku - Seiring dengan bertumbuhkembangnya beberapa paham di Indonesia, terdapat sebagian kelompok yang gemar menyalahkan amaliyah nahdliyah yang telah berjalan mengakar di tengah masyarakat. Tak sedikit dari mereka saling beradu argumen dengan masing-masing pihak tanpa memahami duduk permasalahan secara utuh. 

Seperti perdebatan penggunaan kata "sayyidina" dalam shalawat Nabi. Mustasyar PBNU KH Sya'roni Ahmadi mengatakan bahwa hal tersebut hukumnya boleh berdasarkan nash al-Qur'an secara sharih (jelas). Adapun orang yang tak setuju itu semata dikarenakan mereka tak paham.

Lafadh as-sayyid merupakan lafadh kulli musytarak, yaitu satu lafadh yang mempunyai makna lebih dari satu arti. Demikian penjelasan Kiai Sya'roni pada salah satu pertemuan pengajian Tafsir Al Jalalain rutin setiap Jumat pagi di Masjid Al Aqsha, Menara Kudus.

Kiai sepuh ini menjelaskan bahwa "sayyidina" mempunyai tiga arti. Hal ini mengacu pada beberapa sumber:

Pertama, as-sayyid yang bermakna Tuhan sebagaimana disebutkan dalam hadits Bukhari Muslim الَّسيِّدُ اللهُ. Tuhan itu Allah. Kalau seorang muslim mengucapkan "Sayyidina Muhamad" dengan maksud memakai makna tuhan, "Tuhan itu Muhammad" maka yang mengatakan demikian hukumnya jelas kufur (keluar dari Islam).

Kedua, as-sayyid yang mempunyai arti suami sebagaimana disebut dalam QS Yusuf: 25 

وَاسْتَبَقَا الْبَابَ وَقَدَّتْ قَمِيْصَهُ مِنْ دُبُرٍ وَّأَلْفَيَا سَيِّدَهَا لَدَى الْبَابِ، الاية
Artinya, "Dan keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka pintu." 

Pada ayat ini, as-sayyid tidak dapat dimaknai sebagai raja, Tuhan, namun mempunyai makna "suami". Antara makna yang pertama dengan kedua ini telah jelas ada perbedaannya. Memakai lafadh sayyid pada Nabi Muhammad dengan maksud sebagai suami salah. 

Ketiga, as-sayyid mempunyai arti pimpinan sebagaimana disebutkan dalam QS Ali Imran: 

فَنَادَتْهُ الْمَلاَئِكَةُ وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّىْ فِىْ الْمِحْرَابِ اِنَّ اللهَ يُبَشِّرُكَ بِيَحْيَى مُصَدِّقًا بِكَلِمَةٍ مِنَ اللهِ وَسَيِّدًا وَحَصُوْرًا وَنَبِيَّا مِنَ الصَّالِحِيْنَ
Artinya, "Kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab, (katanya): “Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang putramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang) dari Allah, menjadi ikutan (pemimpin) menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi yang termasuk keturunan orang shalih." 

Pada ayat ini jelas bahwa Allah menyebut Nabi Yahya dengan sebutan sayyid. Ini baru Nabi Yahya. Padahal Nabi Muhammad itu pimpinan para nabi dan rasul, maka sudah sangat patut jika kita menyebutnya dengan memberi imbuhan kata sayyid, sebab Nabi Muhammad secara derajat masih di atas Nabi Yahya (qiyas aulawiy).

Dengan keterangan KH Sya'roni di atas, diharapkan umat dapat memahami persoalan secara mendalam sehingga tidak ada saling tuduh. Akhirnya umat akan dingin, tak ada pertengkaran dan saling klaim, hanya untuk persoalan yang bersifat furu'iyah (bukan fundamen agama). Hal ini dapat tercipta jika masing-masing berkenan memahami agama secara menyeluruh dan mendahulukan hati, pikiran dengan benar bukan nafsu dan emosi.

Sumber:

Wednesday, 6 July 2016

, ,

Tata Cara Pelaksanaan Shalat Idul Fitri


Karyabuatanku - Selamat hari raya Idul Fitri 1437 H. Hari ini, Rabu (06/07) adalah hari Idul Fitri 1437 H berlangsung. Pada postingan kali ini, kami akan membahas mengenai tata cara pelaksanaan Shalat Idul Fitri yang dilaksanakan hari ini. Selamat membaca.

Hukum shalat id, baik Idul Fitri maupun Idul Adha adalah sunnah muakkadah dan sangat dianjurkan untuk dilaksanakan secara berjamaah. Hukum ini berlaku untuk semua muslim dan muslimah baik yang modis maupun yang sederhana. Demikian diterangkan dengan jelas dalam kitab "Fathul Qarib".


وَصَلَاةُ الْعِيْدَيْنِ سُنَّةٌ مُؤَكَّدَةٌ وَتُشْرَعُ جَمَاعَةً وَلِمُنْفِرِدٍ وَمُسَافِرٍ وَحُرٍّ وَعَبْدٍ وَحُنْثَى وَامْرَأَةٍ لَاجَمِيْلَةَ وَلَاذَاتِ هَيْئَةٍ

"Shalat dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) adalah sunnah muakkadah bagi orang yang ada di rumah maupun diperjalanan, merdeka maupun hamba sahaya, laki-laki maupun perempuan baik yang cantik maupun yang tidak modis."

Adapun bacaan niatnya adalah:


أُصَلِّى سُنَّةً لِعِيْدِ الْفِطْرِ رَكْعَتَيْنِ مَأْمُوْمًا لِلَّهِ تَعَالَى

"Aku niat shalat Idul Fitri dua rakaat (ma'mum) karena Allah."

Untuk rakaat pertama bertakbir sebanyak tujuh kali selain takbiratul ihram. Dan di setiap takbir membaca:


سُبْحَانَ اللهِ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ وَلَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ
Dan dilanjutkan dengan surat al-fatihah dan membaca surat. Kemudian bertakbir lagi lima kali pada rakaat kedua selain takbiratul qiyam.

Perbedaan shalat id engan shalat lainnya adalah adanya khotbah setelah pelaksanaan shalat dua rakaat, dan dalam shalat id ini tidak diperlukan adzan maupun iqamat. Demikian keterangan dari Jabir sesuai yang dilihatnya pada zaman Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Alihi wa Shahbihi Sallam.
Sahabat Jabir berkata "saya pernah melaksanakan shalat id bersama Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, beliau melaksanakan shalat sebelum khutbah tanpa adzan dan iqamat.
Sumber:

Tuesday, 5 July 2016

, ,

Imbauan Habib Novel Alaydrus Menanggapi Pengeboman Kawasan Madinah

Karyabuatanku.com - Hari terakhir bulan suci Ramadlan ini, umat Islam diguncangkan dengan berita yang sangat menyedihkan. Kawasan kota suci Madinah al-Munawwaroh dibom oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. Menanggapi pengeboman kawasan Madinah ini, Habib Novel bin Muhammad Alaydrus (Pimpinan Majelis Ilmu dan Dzikir Ar-Raudhah, Solo) mengimbau agar umat Islam jangan terprovokasi dengan berita yang ada. Dalam postingan ini berisi video pesan Habib Novel Alaydrus beserta teks imbauan yang telah kami tulis. 

Tonton Video Imbauan Habib Novel Alaydrus Menanggapi Pengeboman Kawasan Madinah di sini


Berikut ini adalah teks imbauan Habib Novel Alaydrus yang telah kami tulis: 

IMBAUAN HABIB NOVEL ALAYDRUS MENANGGAPI PENGEBOMAN KAWASAN MADINAH - JANGAN TERPROVOKASI 

Assalamu'alaikum Warohmatullahi Wabarokatuh,

Kaum muslimin dan muslimat di manapun Anda berada. Pada hari terakhir bulan suci Ramadlan ini, umat Islam diguncangkan dengan berita yang sangat menyedihkan. Kawasan kota suci Madinah al-Munawwaroh dibom oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab. 

Sebagai seorang muslim, kita jangan terprovokasi dan jangan berfikir pelakunya fulan dan fulan. Tapi mari kita rapatkan barisan. Kita perbanyak do'a kepada Allah Ta'ala, kita banyak bersholawat kepada Nabi Muhammad Shollallahu 'alaihi wa Alihi wa Sallam. 

Mari kita pasang di DP profile picture kita masing-masing, ucapan-ucapan sholawat kepada Rosululullah Shollallahu 'alaihi wa Sallam dan do'a bagi keselamatan umat Islam, khususnya warga Madinah al-Munawwaroh. Semoga Allah Ta'ala menyelamatkan warga Madinah dan semoga korban-korban dari bom tersebut oleh Allah Subhanahu wa Ta'ala dicatat sebagai syuhada', ditempatkan di surga-Nya Allah Subhanahu wa Ta'ala. Dan semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala melindungi seluruh umat Islam di manapun mereka berada. 

Sekian, mari kita jadikan sholawat kepada Rosulullah Shollallahu 'alaihi wa Sallam sebagai DP profile picture kita masing-masing. Tunjukkan cinta kita kepada Baginda Muhammad Shollallahu 'alaihi wa Sallam, kepada agama kita ini, agama yang penuh cinta dan penuh kasih sayang. 

Wassalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh. 

Berikut ini adalah DP Profile Picture yang dimaksud oleh Habib Novel Alaydrus: 

Monday, 4 July 2016

Humor: Pak Guru, Murid dan Buaya

Humor: Pak Guru, Murid dan Buaya
Karyabuatanku - Akhir-akhir ini sering terjadi pelaporan antara murid dan guru. Namun, mari kita coba rehat sejenak dan melupakan kejadian tadi. Postingan kali ini adalah humor antara murid dan guru. Penasaran kan bagaimana kelanjutan humornya? Langsung saja baca postingan berikut ini untuk mengetahui kelanjutannya.

Suatu ketika, PAK GURU meminta Mukidin untuk bernyanyi di depan kelas. MUKIDIN pun akhirnya maju ke depan untuk memenuhi perintah dari PAK GURU agar dirinya menyanyi di depan kelas. Akan tetapi ada kejadian yang tak terduga.

Sewaktu menyanyi, MUKIDIN menyanyi dengan suara yang amat sangat pelan hingga hampir tidak terdengar. Hal ini dikarenakan ia merasa malu untuk menyanyi di depan kelas.

MUKIDIN : "Cicak cicak di dinding,"

PAK GURU : "Lebih besar..!!"

MUKIDIN : "Tokek tokek di dinding,"

PAK GURU : "Besarkan lagi.."

MUKIDIN : "Buaya buaya di dinding.."

PAK GURU : "Mukidiiiiin..!! Yang dibesarkan itu suaramu..!! Bukan hewannya..!! Lah sejak kapan buaya nempel di dinding.."

Sontak mendengar hal ini seisi kelas pun tertawa, termasuk Mukidin.

Sumber:
Facebook dengan sedikit pengubahan

Saturday, 2 July 2016

,

Gus Mus Berkisah Pahit Manis Hidup bersama Bu Nyai Fatma

Gus Mus Berkisah Pahit Manis Hidup bersama Bu Nyai Fatma
Karyabuatanku - Perjalanan rumah tangga KH A Mustofa Bisri (Gus Mus) bersama Nyai Hajjah Siti Fatma telah berlangsung menjelang setengah abad. Gus Mus resmi menikahi putri Kiai Basyuni ini pada 19 September 1971. 

Dalam rentang itu kiai yang kini menjadi Mustasyar PBNU itu merasakan berbagai lika-liku hidup berkeluarga: susah senang dilalui bersama. Hingga akhirnya, Kamis (30/6), pukul 14.30 WIB di RSUD Rembang, Jawa Tengah, Nyai Fatma mendahului Gus Mus pulang ke rahmatullah. 

"Selera kami sering berbeda. Tapi kami selalu menghargai selera masing-masing," tutur Gus Mus melalui akun facebook pribadinya, A Mustofa Bisri, pada 3 April 2016 lalu. 
Sebelumnya, dua hari setelah hari pernikahan ke-44, Gus Mus juga bercerita terang-terangan perihal kehidupan bersama istrinya tersebut. Berikut kutipan lengkap tulisan pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Rembang ini di dinding facebooknya pada 21 September 2015. 
"Kemarin, 19 September, 44 tahun yang lalu, aku menyatakan "Qabiltu nikãhahã..." ketika Kiai Abdullah Chafizh --Allahu yarham-- mewakili Kiai Basyuni, mengijabkan puterinya, Siti Fatma, menjadi isteriku. 

Sejak itu berdua kami mengarungi pahit-manis-gurih-getirnya kehidupan. 

Selama itu --hingga kami dikaruniai 7 orang anak, 6 orang menantu, dan 13 orang cucu-- seingatku, belum pernah aku mengucapkan kepada temanhidupku ini: "I love you", "Aku cinta padamu", "Anä bahebbik", "Aku tresno awakmu", atau kata-kata mesra sejenis. Demikian pula sebaliknya; dia sama sekali belum pernah mengucapkan kepadaku kata rayuan semacam itu. Agaknya kami berdua mempunyai anggapan yang sama. Menganggap gerak mata dan gerak tubuh kami jauh lebih fasih mengungkapkan perasaan kami. 

Selain itu kami pun jarang sekali berbicara 'serius' tentang diri kami. Seolah-olah memang sudah tidak ada lagi yang perlu dibicarakan secara serius. 

Apakah masing-masing kami atau antar kami tidak pernah ada masalah? Tentu saja masalah selalu ada. 

Bahkan kami bertengkar, menurut istilah orang Jawa, sampai blenger. Tapi kami menyadari bahwa ‘masalah’ dan pertengkaraan itu merupakan kewajaran dalam hidup bersama dan terlalu sepele untuk diambil hati. 

Segala puji bagi Allah yang telah melimpahkan kurnia ini. Alhamdulillah 'alã kulli hãl.." 

Sumber: 

, , , ,

Jalan Cinta Gus Mus

Jalan Cinta Gus Mus
Karyabuatanku - Ajal acap terasa tiba-tiba datangnya. Hanya dinding tipis yang dingin dan tajam yang memotong 'ada' dan 'tiada', cakap dan diam selamanya, bersama dan terpisah, sini dan sana. Dinding tipis yang selalu luput dari penolakan, betapapun kita menginginkannya. 

Sejak kehadirannya hingga keberangkatan 'yang tiada' meninggalkan rumah dunia, jarak yang sini dan sana makin terasa menjauh, makin terasa menebal dan melahirkan beragam andai. Andai yang berjalin berkelindan dengan kenangan yang berkelebat-kelebat. Dan puncaknya, ketika tanah menutup 'yang tiada'; jarak yang tak sampai dua meter antara yang dibawah dan diatas tanah, terasa beribu kilo meter yang tak terjangkau oleh transportasi manapun. Dia yang menetap justru terasa pergi, sementara kita yang pergi justru terasa menetap dalam sunyi sendiri, kehilangan. 

Ah, jarak. Lagi-lagi jarak. Jarak yang niscaya terbentuk ketika kita menyikapi apapun dalam kaca mata lahir, kaca mata jasad. 

Dalam yang lahir, yang jasad, betapapun dekat kita, jarak selalu menganga, jarak yang selalu membuat kita tersekat kesunyian meski saling menyentuh. Datangnya ajal hanya menegaskan dan mengokohkan jarak tersebut. 

Inilah 'kutukan' dunia jasad, bila kita mau memandangnya demikian. Tapi ini pulalah 'anugerah' dunia jasad bila kita tahu hikmahnya.

'Kutukan' keberjarakan dunia jasad, seharusnya menyadarkan kita untuk memasuki lorong batin, lorong ruhaniah. Merangkai dan mengabadikan segenap hubungan berawal dari dan berakhir disana. 

Di ruang ini, jarak sirna dan keterpisahan tak pernah berkuasa. Tak bertahta 'ada' dan 'tiada', cakap dan diam, sini dan sana; karena semua 'ada', semua 'cakap', semua 'di sini'. Yang jasad boleh runtuh, boleh sirna sesuai kodratnya; tapi ia tak pernah hilang apalagi terpisah. Inilah jalan cinta, jalan yang selalu berbentuk lingkaran sempurna inna lillahi wa inna ilahi rojiun. 

*** 

A. Mustofa Bisri, Gus Mus, adalah sosok yang sepanjang hidupnya berkali-kali ditempa pengalaman dipisahkan oleh ajal dengan orang-orang terkasihnya. Bukan hanya orang-tuanya, tapi juga saudara-saudara kandungnya. 

Dan sejak awal, Allah sudah menegarkan pribadinya. Beliau bisa dengan sangat tenang melayani tamu-tamu yang bertakziah saat ayahnya dipanggil Allah, sementara semua saudaranya larut dalam air mata duka dan tak punya cukup daya menyapa tamu yang melimpah. Dan kemarin, ketegaran pribadi tersebut kembali terlihat saat sang isteri, Hj. Siti Fatmah Basyuni, yang selama 45 tahun hampir tak pernah terpisah secara lahir, harus pulang memenuhi panggilan Allah. 

Orang pun terkagum-kagum menyaksikan beliau ikut memanggul keranda sang isteri. Lebih lagi, mereka yang hadir bertakziahlah yang justru tak mampu menahan tangis ketika dengan tenang beliau memanjatkan doa bagi sang kekasih, sementara setetes air matapun malah tak terlihat menetes dari matanya. 

Apakah ini? Apakah ini cermin ketak-tersentuhan atas derita? Apakah ini wajah sudah dinginnya hati pada dunia? Menurut saya: bukan. Inilah jalan cinta. Jalan mendaki yang acap dibahas, tapi sedikit yang mampu menapakinya. Yang kita lihat sedang ditunjukkan Gus Mus hanyalah seserpih wujudnya. 

*** 

Ketakdziman luar biasa Nyai Siti Fatmah pada Gus Mus, segera mengingatkan saya pada ketakdziman Nyai Aisyah pada suaminya KH. Abdullah Salam, Kajen; ketakdziman Nyai Ummu As'adah pada suaminya KH. Muslim Rifa'i Imampuro, Klaten; juga ketakdziman Nyai Sinta Nuriyah pada Gus Dur. Dan mestinya masih banyak lainnya. Perempuan-perempuan sholehah yang hampir tanpa pamrih dunia, menemani suaminya bekerja menegakkan agama Allah. 

Ketakdziman yang hanya mungkin dibayangkan muncul dari dunia pesantren dengan bacaan kitab-kitabnya; karena bagi kita yang sudah terecoki dengan bayang-bayang kesetaraan gender, acap kali ketakdziman yang sejatinya positif ini justru dibaca secara negatif. Ketakdziman ini adalah adab, landasan dasar bangunan peradaban. 

Berbeda dengan yang lain, pada Nyai Siti Fatmah, makna dan cakupan ketakdziman yang ditunjukkan sedikit berbeda. Biasanya para isteri lebih banyak menunjukkan ketakdziman ini di rumah dari pada mengikuti suaminya kemana pergi. Inilah yang justru beliau ubah. Makna rumah bukan lagi dibatasi wilayah ruang tertentu, tetapi menjadi wilayah waktu yang tak terikat dengan locus tertentu. Dimana Gus Mus ada, disitulah rumahnya. 

Bukan untuk membayangi, mengawal apalagi mengawasi suami dalam pengertian negatif; tapi sebaliknya untuk memperluas wilayah ketakdzimannya. Sehingga hampir bisa dipastikan, dimana ada Gus Mus, disitu juga ada Nyai Siti Fatmah. Benar-benar mirip ungkapan Jawa, seperti 'mimi lan mintuno'. Keduanya berjalan bersama menapaki jalan cinta yang agung dan membawa rumahnya kemana-mana, sehingga diam-diam sering membuat iri banyak orang. 

Kini, sang pembawa rumah itu sudah pulang ke rumah sejatinya. Sebelum berangkat, beliau lebih dahulu meminta maaf pada sang suami terkasih. Meminta maaf karena tak lagi bisa merawat ketakdziman di rumah dunia. Bentuk cinta dan ketakdziman yang luar biasa indah yang ditunjukkan seorang perempuan. 

Wilayah pantura timur yang sejak Senin selalu diliputi mendung dan hujan; dan mencapai puncaknya pada Kamis 30 Juni 2016 yang bertepatan dengan 25 Ramadlan 1437 H; seperti isyarat kedukaan langit atas berpulangnya salah satu perempuan sholehah. Ribuan, bahkan jutaan orang seperti tersentak oleh berita yang seperti mendadak ini. 

Inna lillahi wa inna ilahi rojiun. Selamat jalan Ibu Nyai Siti Fatmah, semoga kuburmu sewangi ketakdzimanmu. Pada saatnya kami semua akan menyusulmu. 

*** 

Oleh: 
Anis Sholeh Ba'asyin, Pengasuh Suluk Maleman