Saturday, 30 April 2016

Filled Under: , ,

5 Kepribadian Mbah Sahal yang Mungkin Jarang Dimiliki Kiai Lain

5 Kepribadian Mbah Sahal yang Mungkin Jarang Dimiliki Kiai Lain
Karyabuatanku - Salah satu tokoh Kiai pesantren yang kita kenal pada abad ke-21 ini adalah Kiai Sahal atau Mbah Sahal. Kiai Sahal adalah satu di antara kiai di Indonesia yang terkenal akan kealimannya. Terbukti walaupun beliau adalah orang yang selalu berpenampilan sederhana dengan seragam kebesaran beliau yaitu kemeja, sarung dan peci hitam layaknya yang sering dipakai oleh para santri, beliau adalah samudera ilmu bagi para santri-santrinya.

Nama lengkap beliau adalah Muhammad Ahmad Sahal bin Mahfudz bin Abdussalam al-Hajaini (karena beliau berasal dari daerah Kajen, Pati.red). Beliau dilahirkan di Kajen, sebuah desa kecil yang terbilang gersang tanahnya yang terletak di sebelah utara kota Pati Jawa Tengah, pada tanggal 17 Desember 1937 dari pasangan Kiai Mahfudz bin Abdussalam al-Hafidz dan Hj. Badi'ah.

Sejak kecil, beliau sudah menjadi yatim. Sehingga masalah pendidikan beliau dibantu dan diberi motivasi oleh paman beliau sendiri dan salah satu Kiai kajen yang terkenal alim dan zuhud, KH. Abdullah Salam. Beliau bukanlah sosok yang berpendidikan formal tinggi, pendidikan beliau lebih banyak di pesantren dan kajian agama. Sahal kecil lebih banyak dididik oleh pamannya sendiri.

Setelah itu, Sahal muda nyantri di Pesantren Bendo - Pare - Kediri dibawah asuhan Kiai Muhajir, seorang Kiai sepuh yang istiqomah mengajarkan kitab Imam Ghazali, Ihya' Ulum ad-Din. Kemudian Kiai Sahal melanjutkan nyantri ke Sarang - Rembang, atas rekomendasi Mbah Dullah sang paman yang ingin agar beliau lebih belajar Ilmu Fikih dan Ushul Fikih.

Setelah selesai pulang dari Sarang, beliau dipercaya untuk memimpin pesantren Maslakul Huda, pesantren yang dulunya diasuh oleh sang Ayahanda, KH. Mahfudz Salam dan Perguruan Islam Mathaliul Falah, yang juga dikelola oleh keluarga besar beliau.

Kehidupan beliau banyak dihabiskan di desa tempat beliau lahir sampai akhir hayat beliau, yaitu desa Kajen. Walaupun demikian, beliau adalah sosok yang aktif dalam masalah umat. Terbukti beliau banyak mengikuti organisasi kemayarakat semenjak beliau masih muda. Dimulai dari organisasi kecil di lingkungan Kajen dan Margoyoso Pati, sampai akhirnya beliau menjadi Rais Aam PBNU dan MUI sampai beliau wafat pada hari Jumat tanggal 24 januari 2014.

Beliau memiliki istri yang selalu setia menemani sampai akhir hayat beliau, yang bernama Nyai Hj. Nafisah Sahal Mahfudz dan seorang putra beserta 3 orang cucu. Dari sekelumit cerita tentang Kiai sahal tersebut, ada banyak hal yang dapat kita pelajari dan ambil contoh dari Kiai Sahal untuk diterapkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Di antaranaya adalah kezuhudan beliau. Paling tidak, ini 5 ekspresi kepribadian Kiai Sahal Mahfudz yang saya amati selama nyantri di Kajen.

1. Seragam Kebesaran
Kiai Sahal termasuk seseorang yang selalu konsisten, termasuk dalam hal berpakaian. Menurut pengamatan saya selama nyantri di Pesantren Putri Al-Badi'iyyah Maslakul Huda, beliau selalu berpakaian sederhana. Pakaian kebesaran beliau adalah sarung dan kemeja. Kemana pun beliau tindakan (pergi), beliau lebih cenderung berbusana sarung dan kemeja. Ini beliau terapkan baik dalam acara resmi maupun nonresmi. Beliau jauh dari atribut-atribut kekiaian yang identik dengan sorban. Dengan "Seragam" kebesarannya tersebut, beliau lebih terlihat sangat sederhana dan ala kadarnya akan tetapi tidak mengurangi kewibawaan beliau.

Kita dapat banyak belajar dari penampilan beliau, bahwa kita tidak bisa hanya semata-mata melihat seseorang hanya dari tampilan luarnya saja, karena seringkali tampilan luar hanyalah tipuan belaka. Kiai yang hanya selalu bersarung kemana-mana itu seorang ulama yang sangat pro aktif dalam mengembangkan ilmu agama. Terbukti beliau banyak menulis tentang pendidikan di pondok pesantren dan masalah Fikih Sosial yang ditulis dalam bahasa Indonesia. Sehingga atas keteguhan beliau dalam memperkenalkan Fikih Sosial kepada masyarakat luas, pada tahun 2003 beliau dipercayai menyandang gelar kehormatan Doktor Honoris Causa dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

2. Nanggani (Bertetangga)
Kiai Sahal merupakan sosok yang sangat sederhana dan mempunyai jiwa sosial yang sangat tinggi. Menurut Nyai Nafisah, selaku istri beliau, setiap hari raya Idul Fitri ada istilah silaturrahim antar tetangga, saling berkunjung satu sama lain. Biasanya, rumah seorang kiai, terutama kiai besar seperti Kiai Sahal pastilah banyak yang sowan ke ndalem atau rumah beliau. Akan tetapi, sosok Kiai Sahal tidak ingin dihormati sebagaimana kiai lainnya.

Beliau sangat berjiwa sosial, sehingga beliau memiliki kebiasaan di pagi Idul beliau berkeliling silaturrahim ke setiap rumah tetangganya dan tidak sungkan untuk meminta maaf duluan. Sehingga kebiasaan beliau itu pun menjadi sebuah tradisi di lingkungan sekitar beliau tinggal, bahkan banyak dari para tetangga yang stand by untuk menyambut kedatangan beliau di rumah mereka. Akhlak yang dimiliki kiai besar sekelas Kiai Sahal perlu kita tiru. Ini merupakan ekspresi kerendahan hati dan kezuhudan beliau, dan menegaskan bahwa kemulian seseorang bukanlah dilihat dari kekiaian seseorang atau pun nilai materi lainnya.

3. Istiqomah dan Disiplin
Selain terkenal dengan kepandaian dan kealimannya, beliau juga dikenal sebagai sosok yang sangat menjunjung tinggi nilai istiqomah. Dari pengamatan saya sebagai santri beliau, Kiai Sahal merupakan sosok yang sangat disiplin dan menghargai waktu. Seringkali saya melihat beliau duduk di samping ndalem sambil membaca koran. Bahkan untuk hal-hal kecil seperti makan pagi, makan siang dan tidur siang pun, beliau selalu on time. Dari sini saya banyak belajar bahwa kita diberikan waktu 24 jam ini gratis dari Sang Pencipta, tapi bagaimana cara kita bersyukur kepada-Nya dengan cara memanfaatkan waktu tersebut dengan sebaik-baiknya.

Beliau adalah seseorang yang selalu tepat waktu dalam setiap kegiatan. Saya sebagai santri putri yang memang jarang sekali mendapatkan kesempatan untuk mengaji langsung dengan beliau, sesekali memanfaatkan waktu libur panjang sekolah saat bulan Ramadan ikut mengaji dengan beliau dan ngalap barakah kepada beliau.

Setiap pagi sekitar jam 8 pagi ngaji kitab yang ditulis oleh beliau sendiri, Thariqat al-hushul 'ala Ghaayat al Wushul yang merupakan syarah dari kitab Lubb al-Ushul yang sangat terkenal tersebut, selalu on time. Walaupun banyak para santri yang belum hadir, kalau sudah waktunya mulai beliau akan langsung memulainya. Itu membuat para santri tergopoh-gopoh untuk segera mengikuti pengajian beliau, sehingga para santri yang memang sudah tahu kedisiplinan beliau, mereka akan stand by duluan di ndalem beliau.

4. Peduli Umat
Kiai Sahal adalah seorang kiai yang tidak hanya berkutat di rumah saja untuk mengajar para santrinya. Beliau juga sangat menaruh perhatian yang sangat besar terhadap orang lain. Sehingga melihat keadaaan sekitar yang lumayan mengenaskan, beliau tidak segan-segan hanya menjadikan pesantren sebagai tempat untuk mengaji saja, akan tetapi lebih mempraktikkanya untuk kemaslahatan umat. Itu disebabkan karena beliau adalah orang yang sangat menaruh perhatian yang sangat besar terhadap pengentasan kemiskinan di daerah sekitar beliau tinggal.

Keadaaan tanah Kajen (desa tempat beliau tinggal) yang sangat gersang tidak memungkinkan warganya untuk bersawah, sehingga lajur ekonominya rendah. Dengan berbagai tekad, Kiai sahal membuat BPPM (Biro pelatihan dan pengembangan Masyarakat) untuk menopang ekonomi rakyat. Biro ini dididrikan agar memudahkan pesantren dalam ikut membantu mengentaskan kemiskinan di desa Kajen. Sampai terlahir BPR Artha Huda Abadi, yang didirikan dengan tujuan mempermudah masyarakat untuk meminjam modal usaha.

5. Menjaga Diri dari Hal-hal yang Bersifat Syubhat
Kiai Sahal adalah sosok yang sangat sederhana, tidak hanya dalam berpenampialn, ini terlihat dari keseharian beliau yang apa adanya. Pada suatu ketika, ibu Nyai Nafisah yang juga seorang aktifis, dipercaya untuk menjadi anggota DPRD Jawa Tengah. Atas izin suami tercinta, Ibu Nyai menjalankan tugas beliau sebagai wakil rakyat, dengan syarat semua gaji yang diperoleh oleh Ibu Nyai jangan dipakai untuk kepentingan pribadi, apalagi untuk makan, karena sifat kehati-hatian Kiai Sahal terhadap barang yang sifatnya syubhat atau tidak jelas asal usul halal haramnya. Sehingga uang tersebut menurut informasi yang saya dengar sebagai santrinya untuk membangun atau merenovasi pondok pesantren Maslakul Huda Putra atau PMH Putra.

Semoga sifat dan sikap beliau dapat menjadi pelajaran hidup bagi kita semua, dan semoga apa yang telah beliau ukir dalam kehidupannya dan memberikan manfaat dan barokah bagi kita semua. Allahummaghfir lahu warhamhu wa'aafihi wa'fu 'anhu.

Oleh:
Asih Lestari
Warga KMF Jakarta, Mahasiswa Program Magister Fakultas Adab dan Humaniora UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.

Sumber:
Keluarga Mathali'ul Falah (KMF)  Jakarta - 5 Kepribadian Kiai Sahal Mahfudz yang Mungkin Jarang Dimiliki Kiai Lain

Comments
0 Comments



0 comments: