Friday, 18 March 2016

Filled Under: , ,

Dedi Mulyadi dan Strategi Kebudayaan

Dedi Mulyadi sedang memanggul beras. [Sumber: Fans Page Resmi Kang Dedi Mulyadi]
Karyabuatanku - Siapa yang tak kenal dengan sosok Dedi Mulyadi? Ya, pria yang kini menjabat sebagai Bupati Purwakarta ini kerap dikenal sebagai pemimpin yang menggunakan pendekatan kebudayaan dalam gaya kepemimpinannya. Pemilik nama lengkap H Dedi Mulyadi SH itu lahir di Sukasari, Dawuan, Subang, pada 11 April 1971 silam. Berikut ini adalah tulisan menarik berjudul Dedi Mulyadi dan Strategi Kebudayaan yang kami ambil dari tulisan. Silahkan dibaca untuk kelanjutannya.

Dedi Mulyadi dan Strategi Kebudayaan

Sebuah gagasan bisa meraih popularitas karena menarik, bukan karena pembaharuannya. Juga tidak ditentukan semata karena kontroversinya. Pemikiran Bupati Purwakarta, Dedi Mulyadi misalnya, bukan hal baru, tetapi cukup menarik perhatian masyarakat.

Sebagian orang berpikir karena Dedi Mulyadi kontroversi sehingga ramai diperbincangkan, sampai-sampai mengundang amarah kelompok tertentu dan melakukan somasi terhadapnya. Bahkan kelompok tersebut mengajukan gugatan ke pengadilan karena Dedi dianggap menistai agama. 

Saya sering mengamati polemik atas pemikiran Dedi Mulyadi (sebut Kang Dedi). Bupati Purwakarta itu selain dikenal nyentrik dalam urusan dandanan, juga menarik dari sisi pemikiran. Karena sosoknya sebagai pejabat publik yang keluar dari kebiasaan bupati lain itulah yang mendorong kita untuk menyikapinya secara jernih dan objektif. 

Dari sekian bacaan di internet dan beberapa bukunya yang telah saya baca, memang ada banyak pemikiran yang menarik dari Kang Dedi, terutama mengenai etos hidup yang ingin ia kembangkan di masyarakat. Yang paling menarik menurut saya adalah cara pandang Kang Dedi terkait dengan urusan keyakinan agamanya dan sikap kasih sayang terhadap sesama manusia dan alam. 

Ini merupakan sisi yang fenomenal dan patut diapresiasi. Bahkan saya menyerukan patut dijadikan teladan kepala daerah lain karena dua hal. 

Pertama, karena kemampuan Kang Dedi menempatkan dirinya sebagai orang yang beragama tetapi mampu membaca sunnatullah. Kedua, karena kemampuan Kang Dedi mengambil solusi atas problematika masyarakat dalam hal ekonomi dan pola hidup masyarakat di era globalisasi. 

Sisi Agama Dedi Mulyadi 
Dari sisi agama, Kang Dedi cukup memiliki bekal. Ia memang bukan kiai, bukan ulama, bahkan nyantri pun tidak, kecuali mendapatkan pendidikan agama dari guru-guru ngaji golongan santri tradisional. Masa kecilnya hidup dalam keluarga muslim taat, mengerti praktik ibadah sebagaimana lazimnya orang-orang NU. Karena dirinya termasuk golongan yang haus ilmu, secara otodidak ia gemar belajar sendiri melalui bacaan-bacaan keagamaan. 

Di luar itu ia pun sangat senang bergaul dengan para ulama, cendekiawan, budayawan, penyair, teknokrat dan lain-lain. Pendek kata, pola penyerapan ilmu Kang Dedi seperti para aktivis; terus menggali pengetahuan dari mana pun sumbernya. 

Posisi Kang Dedi sebagai aktivis yang menjabat Bupati, membuat dirinya kaya akan pengalaman berinteraksi dengan teman-temannya di kalangan birokrat, politisi. Ia juga kenyang pengalaman menghadapi massa riil di akar rumput. Ia punya kesadaran intelektual, sekaligus punya kesadaran transformatif untuk mengubah kondisi yang beku menjadi cair, mengubah yang stagnan menjadi progresif. 

Di Balik Pemikiran Dedi Mulyadi 
Kang Dedi bisa digolongkan sebagai sosok aktivis yang rindu akan peran agama dalam menjawab persoalan di masyarakat. Ia bukan tipikal muslim kolot/konservatif yang berhaluan Islam-Politik yang lebih gemar memformalkan agama dalam bentuk peraturan atau simbol-simbol. 

Alih-alih demikian, ia menjadikan Islam sebagai aksi, sebagai tindakan agar bisa memberikan solusi untuk pencapaian maslahat. Berbagai prestasi sudah dibuktikan, sehingga saya tidak perlu menuliskannya secara rinci di sini. 

Justru yang lebih penting adalah, apa yang berada di balik pemikiran Kang Dedi sehingga ia memiliki kemampuan menerjemahkan agama dalam konteks kepemimpinannya sebagai bupati dan juga sebagai pegiat budaya? 

Kang Dedi Mulyadi punya kesadaran mengintegrasikan ajaran Tuhan sebagai pencipta dengan realitas yang harus dihadapi manusia. Seorang muslim menurutnya, harus mampu menggunakan akal budinya untuk melihat realitas; mampu melihat sunnatullah. 

Pada sebuah acara di televisi misalnya, ia mengatakan, 
"Saya punya pemahaman bahwa tanah, air, matahari (cahaya), dan udara adalah kita. Ia menjadi bagian dari kehidupan kita dan karena itu tidak boleh disakit. Karena menyakiti tanah, air, matahari dan udara adalah menyakiti kita, menyakiti manusia."
Kemudian Kang Dedi menjelaskan, bahwa segala ciptaan Allah dan alam semesta itu sepaket sebagai bagian hidup umat manusia. Manusia menjadi khalifah, punya tanggungjawab untuk mengurus alam semesta dan tidak boleh melukainya dengan melakukan eksploitasi, atau tindakan semena-mena.

Menurutnya, selama ini banyak kerusakan alam karena peran khalifah yang diamanatkan kepada manusia, tidak dijalankan dengan baik oleh kalangan umat Islam, dengan membiarkan masyarakat tanpa kepemimpinan dalam urusan ekspolitasi alam. 

Menurut Kang Dedi, untuk menolak madharat dalam urusan lingkungan hidup misalnya, seorang kepala daerah tidak boleh tergoda mengizinkan penambangan pasir sembarangan. Ia juga tidak boleh memberikan izin pendirian perusahaan yang berpotensi merusak lingkungan di sekitar lahan tempat berdirinya. Setiap bupati atau gubernur dan presiden harus menolak tegas ijin-ijin pembangunan yang tidak manusiawi dan tidak ramah lingkungan. 

Kang Dedi melihat kenyataan selama ini, orang-orang modern sulit meraih kebahagiaan karena melupakan tanggungjawab mengurus tanah, air, udara dan cahaya. Semuanya serba pragmatis menyangkut urusan ekonomi dengan alasan modernisasi. Padahal menurutnya, sekali pun pragmatis-ekonomis, toh akhirnya tidak menjadikan kemakmuran tersebut mengarah pada kebahagiaan manusia. 

Kang Dedi mengambil contoh, banyak orang merasa modern karena kompor gasnya. Padahal dengan kompor gas itu pemborosan terjadi. Banyak dapur di desa-desa yang memakai kompor gas, padahal seharusnya orang desa merawat hutan dan bisa memanfaatkan rantingnya untuk kayu bakar. 

Akibat rutin mengonsumsi gas itulah pemborosan terjadi. Semua harus belanja. Gaji PNS naik, tapi tetap dililit oleh problem pengeluaran karena sudah banyak pegawai negeri yang terjebak pada konsumerisme hidup: ketergantungan pada motor, mobil, dan lain-lain. Akhirnya, mereka mewujud sebagai masyarakat modern, tetapi sengsara karena dililit pengeluaran yang semakin meningkat. 

Kearifan Petani 
Menurut Kang Dedi, kearifan lokal di masyarakat itu harus diutamakan. Misalnya petani tidak usah memakai mesin bajak, melainkan memakai kerbau saja. Mesin tidak selalu menguntungkan secara ekonomis karena akan selalu mengalami penyusutan. Bahkan, saat mesin bermasalah, petani bisa menganggur. 

Dengan memanfaatkan rumput untuk kerbaunya, petani justru bisa untung karena kerbau tersebut bisa beranak, bisa menghasilkan pupu;, jerami bisa diolah jadi pupuk organik; petani pun tidak kecanduan pestisida yang merusak alam. 

Ular menurutnya, tidak boleh dibunuh karena secara sunnatullah harus hidup untuk menjaga lingkungan. Hilangnya ular akan membuat populasi tikus merajalela dan akan merusak tanaman. Rusaknya tanaman akan membuat petani miris dan pesimis akan kondisi ekonominya, sehingga memilih menjadi pekerja kasar di kota. 

Kearifan pendidikan anak dalam keluarga, menurut Kang Dedi, juga harus diperhatikan. Karena tanpa pendidikan etos yang baik, orang-orang akan sulit meraih kebahagiaan. Misalnya anak-anak sekarang tidak lagi diarahkan oleh orang tuanya bersentuhan dengan alam. Sekolah naik motor, bensin keluar. Mesin motor bisa menggerus uang tabungan. 

Begitu pulang ke rumah, yang dipegang anak-anak masa kini adalah ponsel; yang mereka tonton, tayangan-tayangan televisi yang tidak mencerminkan realita. Akhirnya, mereka berada di rumah terus menerus dan merasa risih dengan lumpur, dengan tanah, takut cahaya matahari, dan tidak mendapatkan udara segar dari alam. 

Menurut Kang Dedi, ini mengakibatkan mentalitas buruk karena kemudian anak tidak punya pengalaman empirik mencari sesuatu untuk menghasilkan sesuatu. Mereka lebih memilih berdiam diri di rumah. Kelak saat dewasa, ketika membutuhkan sesuatu yang mendesak, mereka menjadi pragmatis dengan memilih menjual tanahnya, menjual ternaknya untuk konsumsi hidup. Akibatnya banyak petani kehilangan tanahnya. 

"Orang-orang sekarang sudah pada jadi dedemit," katanya. Menjadi dedemit karena menurut Kang Dedi banyak yang takut berinteraksi dengan alam di siang hari, memilih menghindari cahaya matahari, takut hujan, takut keluar rumah dan tidak punya tanah. Kalaupun menempati tanah hanya ngontrak. "Kaki-kaki manusia sudah tidak lagi bersahabat dengan tanah. Mirip dedemit," ujarnya bergurau.

Konstruksi mentalitas manusia yang seperti itu, menurut Kang Dedi, lahir karena kesadaran agama tidak dibangun atas dasar jiwa. Agama banyak diterapkan sebagai lipstik dan tidak dijadikan alat untuk gerakan hidup. Manusia Indonesia, menurut Kang Dedi, sudah banyak dianugerahi kekayaan alam yang luar biasa tetapi tidak mau merawat dan menjadikannya sahabat, sehingga masuk golongan kufur nikmat.

Menerapkan Metode Pembelajaran Aktif 
Dalam urusan pembelajaran sekolah, Kang Dedi juga ingin agar para guru mampu mempraktikkan metode belajar aktif. Pembelajaran aktif adalah pembelajaran yang tidak melulu bergantung dengan buku teks, melainkan didominasi secara langsung melalui praktik. 

Dalam hal ini, Kang Dedi tidak mengharuskan para guru mengajar di ruangan kelas dan semata berkutat dengan buku, tetapi harus langsung ke lapangan. Misalnya, ketika seorang guru mau menjelaskan tentang cahaya matahari, ajaklah muridnya keluar ruangan dan jelaskan apa itu tata surya. (Idenya mirip pembelajaran Nabi Ibrahim yang pada akhirnya mampu menawarkan pembaharuan mengenai gagasan tentang Tuhan). 

Menurut Kang Dedi, buku memang penting, tetapi kalau hanya bersandar pada buku, justru akal dan rasa manusia tidak akan berkembang karena hanya menyerap pengetahuan dari unsur-unsur yang mati, abstrak dan tidak konkret. 

Sementara itu, ilmu pengetahuan hanya akan mubazir kalau berhenti pada tataran teori. Ilmu pengetahuan bagi Kang Dedi, harus mampu menjawab kebutuhan hidup manusia, dan bukan justru menciptakan pengangguran-pengangguran atau mental pekerja budak yang penakut dalam menghadapi situasi hidup, memilih zona nyaman dengan bekerja pada orang lain/perusahaan. 

Beberapa poin penting tentang agama, etos dan visi Kang Dedi di atas sangat menarik. Karena semangat seperti itulah yang banyak dirindukan oleh para budayawan dan cendekiawan. Kalau kita baca buku karya Ajip Rosidi, Kearifan Lokal: Dalam Perspektif Budaya Sunda, di sana akan tergambar jelas bahwa sosok Kang Dedi seperti yang dimpikan oleh Ajip Rosidi. 

Kang Dedi, dalam konstruksi pemikiran Ajip Rosidi, adalah tipikal pejabat yang lain, karena kemampuannya menerjemahkan pengertian budaya sebagai etos, etik dan ideologi, bukan sebagai kesenian atau formalisme istilah semata. 

Sumber: 

Comments
0 Comments



0 comments: